Langsung ke konten utama

Sistem Development Life Cycle


Macam - Macam Model Life Cycle Software :
 
 
 
 
 
1. Waterfall Model
Metode pengembangan sistem metode SDLC(Sistem Development Life Cycle) atau sering disebut sebagai pendekatan air terjun (waterfall).Metode waterfall pertama kali diperkenalkan oleh Windows W. Royce pada tahun 1970. Waterfall merupakan model klasik yang sederhana dengan aliran sistem yang linier Output dari setiap tahap merupakan input bagi tahap berikutnya (Kristanto, 2004). Model ini melibatkan penyelesaian satu tahap secara lengkap sebelum melangkah ke tahap berikutnya. Ketika satu tahap selesai langsung dilakukan evaluasi untuk memastikan proyek berjalan sesuai rencana dan layak diteruskan ke tahap berikutnya. Waterfall Model, disebut juga model klasik, memiliki beberapa tahap utama, yaitu analisis dan rekayasa sistem, perancangan, penulisan program, pengujian, dan pemeliharaan.



Kelebihan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model.
·       Tahapan proses pengembangannya tetap (pasti), mudah diaplikasikan, dan prosesnya teratur.


·        Cocok digunakan untuk produk software/program yang sudah jelas kebutuhannya di awal, sehingga minim kesalahannya.
·       Software yang dikembangkan dengan metode ini biasanya menghasilkan kualitas yang baik. 
·        Documen pengembangan sistem sangat terorganisir, karena setiap fase harus terselesaikan dengan lengkap sebelum melangkah ke fase berikutnya.

 


Kekurangan Model Sekuensial Linear / Waterfall Development Model
·        Proyek yang sebenarnya jarang mengikuti alur sekuensial seperti diusulkan, sehingga perubahan yang terjadi dapat menyebabkan hasil yang sudah didapatkan tim pengembang harus diubah kembali/iterasi sering menyebabkan masalah baru.


·       Terjadinya pembagian proyek menjadi tahap-tahap yang tidak fleksibel, karena komitmen harus dilakukan pada tahap awal proses.
·        Sulit untuk mengalami perubahan kebutuhan yang diinginkan oleh customer/pelanggan.
·       Pelanggan harus sabar untuk menanti produk selesai, karena dikerjakan tahap per tahap, dan proses pengerjaanya akan berlanjut ke setiap tahapan bila tahap sebelumnya sudah benar-benar selesai.
·        Perubahan ditengah-tengah pengerjaan produk akan membuat bingung tim pengembang yang sedang membuat produk.
·       Adanya waktu kosong (menganggur) bagi pengembang, karena harus menunggu anggota tim proyek lainnya menuntaskan pekerjaannya.
 
  
2. Model Prototype
Metode Prototype merupakan suatu paradigma baru dalam metode pengembangan perangkat lunak dimana metode ini tidak hanya sekedar evolusi dalam dunia pengembangan perangkat lunak, tetapi juga merevolusi metode pengembangan perangkat lunak yang lama yaitu sistem sekuensial yang biasa dikenal dengan nama SDLC atau waterfall development model. Dalam Model Prototype, prototype dari perangkat lunak yang dihasilkan kemudian dipresentasikan kepada pelanggan, dan pelanggan tersebut diberikan kesempatan untuk memberikan masukan sehingga perangkat lunak yang dihasilkan nantinya betul-betul sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan.
 
 
Kelebihan Model Prototype
 
·        Pelanggan berpartisipasi aktif dalam pengembangan sistem, sehingga hasil produk pengembangan akan semakin mudah disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan.
·       Penentuan kebutuhan lebih mudah diwujudkan.
·        Mempersingkat waktu pengembangan produk perangkat lunak.
·       Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan.
·        Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan.
·       Lebih menghemat waktu dalam pengembangan sistem.
·        Penerapan menjadi lebih mudah karena pelanggan mengetahui apa yang diharapkannya.
·       Kekurangan Model Prototype
·        Proses analisis dan perancangan terlalu singkat
·       Biasanya kurang fleksibel dalam mengahadapi perubahan.
·        Walaupun pemakai melihat berbagai perbaikan dari setiap versi prototype, tetapi pemakai mungkin tidak menyadari bahwa versi tersebut dibuat tanpa memperhatikan kualitas dan pemeliharaan jangka panjang.
·       Pengembang kadang-kadang membuat kompromi implementasi dengan menggunakan sistem operasi yang tidak relevan dan algoritma yang tidak efisien.
 
3. Model Rapid Application Development (RAD)
Rapid Aplication Development (RAD) adalah sebuah model proses perkembangan perangkat lunak sekuensial linier yang menekankan siklus perkembangan yang sangat pendek (kira-kira 60 sampai 90 hari). Model RAD ini merupakan sebuah adaptasi “kecepatan tinggi” dari model sekuensial linier dimana perkembangan cepat dicapai dengan menggunakan pendekatan konstruksi berbasis komponen.
 
 
Kelebihan Model RAD
·       Lebih efektif dari Pengembangan Model waterfall/sequential linear dalam menghasilkan sistem yang memenuhi kebutuhan langsung dari pelanggan.
·        Cocok untuk proyek yang memerlukan waktu yang singkat.
·       Model RAD mengikuti tahap pengembangan sistem seperti pada umumnya, tetapi mempunyai kemampuan untuk menggunakan kembali komponen yang ada sehingga pengembang tidak perlu membuatnya dari awal lagi sehingga waktu pengembangan menjadi lebih singkat dan efisien.
 
 
 
Kekurangan Model RAD :
·       Model RAD menuntut pengembangan dan pelanggan memiliki komitmen di dalam aktivitas rapid-fire yang diperlukan untuk melengkapi sebuah sistem, di dalam kerangka waktu yang sangat diperpendek. Jika komitmen tersebut tidak ada, proyek RAD akan gagal.
·        Tidak semua aplikasi sesuai untuk RAD, bila system tidak dapat dimodulkan dengan teratur, pembangunan komponen penting pada RAD akan menjadi sangat bermasalah.
·       RAD tidak cocok digunakan untuk sistem yang mempunyai resiko teknik yang tinggi.
·        Membutuhkan Tenaga kerja yang banyak untuk menyelesaikan sebuah proyek dalam skala besar.( Jdi dak biso di pake utk TA)
·       Jika ada perubahan di tengah-tengah pengerjaan maka harus membuat kontrak baru antara pengembang dan pelanggan.
 
 
 
4. V-Model
The V-Model adalah model SDLC dimana pelaksanaan proses yang terjadi secara berurutan dalam bentuk-V. Dikenal juga sebagai model Verifikasi dan Validasi. The V-Model merupakan perluasan dari waterfall model  dan didasarkan pada asosiasi dari fase pengujian untuk setiap tahap pengembangan yang sesuai. Ini berarti bahwa untuk setiap fase tunggal dalam siklus pengembangan, ada tahap pengujian terkait langsung. Ini adalah model yang sangat disiplin dan tahap berikutnya dimulai setelah selesainya tahap sebelumnya.
Kelebihan dari V-Model SDLC
·        Ini adalah model yang sangat-disiplin dan Tahapan selesai satu per satu.
·       Bekerja dengan baik untuk proyek-proyek yang lebih kecil dimana persyaratan dipahami dengan baik
·        Sederhana dan mudah dimengerti dan digunakan.
·       Mudah dikelola karena setiap fase memiliki spesifik kiriman dan proses review.

 


        Kekurangan dari V-Model SDLC
·       Berisiko tinggi dan ketidakpastian.
·        Tidak cocok untuk proyek-proyek yang kompleks dan berorientasi objek.
·       Tidak cocok untuk proyek-proyek dimana persyaratan beresiko tinggi
·        Tidak cocok untuk proyek-proyek yang lama dan berkelanjutan.
·       Setelah aplikasi dalam tahap pengujian, sulit untuk kembali dan mengubah fungsionalitas
 
 
 
5. Model Synchronize And Stabilize (SDLC)
Model ini adalah model yang digunakan oleh Microsoft.  Secara garis besar, Model Synchronize and Stabilize ini sama dengan model incremental, tetapi oleh CUsamano dan Selby tahun 1997 menyebutnya sebagai model Syncronize and Stabilized Model karena ada beberapa proses manajemen yang ditekannya oleh microsoft. Analisis kebutuhan dilakukan dengan wawancara dengan sejumlah konsumen yang potensial.  Kemudian kebutuhan-kebutuhan tersebut dibuat paket dan disusun daftar secara prioritas.  Kemudian spesifikasi ditulis.  Selanjutnya pekerjaan dibagi dalam tiga atau empat bagian pembangunan software.  Bagian pertama menangani hal-hal yang paling kritis, bagian selanjutnya menangani hal-hal yang krisis selanjutnya, dan seterusnya.
 
 
Kelebihan Model Synchronize And Stabilize (SDLC)
·       Membagi produk yang besar ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil (prioritas dari fitur produk yang memiliki tim fitur kecil dapat dibuat dalam beberapa bulan)
·       Membuat project bekerja secara sistematis meskipun mereka tidak dapat menggambarkan dan menyelesaikan suatu produk di awal project.
·       Mengijinkan tim besar bekerja menjadi tim yang lebih kecil dengan membagi sebuah tim menjadi beberapa bagian, bekerja secara paralel tetapi tetap dapat berkesinambungan dalam men synchronizing setiap perubahan, stabilizing produk dan menemukan serta memperbaiki kesalahan.
·       Memfasilitasi masukkan dari customer, fitur produk dan waktu pengembangan yang pendek, yang didukung oleh mekanisme masukkan customer, prioritas, menyelesaikan dahulu bagian yang sangat penting dan melakukan perubahan tanpa harus mengurangi fitur yang diperlukan.
 
 

 
 
 

 

Postingan populer dari blog ini

Web Design Mistakes by Jacob Nielsen

1. Mobile Design On Big Screens Sebuah tampilan web yang bekerja sempurna di layar handphone namun tidak bekerja dengan baik di layar dekstop atau komputer yang cenderung lebih besar atau sebaliknya yaitu tampilan yang sangat besar di layar handphone yang tidak memuat tampilan secara keseluruhan dan user diharuskan untuk menggeser sendiri layar untuk melihat semua tampilan web tersebut.   2. Only Huge Hero Image Above Fold Layar splash yaitu sebuah desain yang sangat besar seperti kata "Selamat Datang di Web Kami" dan terkadang ditambah dengan animasi yang tidak perlu atau berlebihan dan cenderung mengganggu penggunanya.     3. Layout Shift On Page Load Seperti ketika mendownload sesuatu file data, muncul pop-up donwload file tersebut yang bergerak terus menerus, hal ini tentunya mengurangi nilai estetika website dan mengganggu dikarenakan ketika user ingin mendapatkan ala yang mereka cari malah akan dibawa ke situs lain yang tidak ada gunanya ketika mereka sa...